Laman

Rabu, 19 Maret 2014

PROKLAMER CINTA DI SURAMADU - Radar Madura (Jawa Pos), edisi : 23 Juni 2013



PROKLAMER CINTA DI SURAMADU
(Benny Can)

Lirih angin pagi menyapa diterpaan berlalu, menghembaskan embun mendekap tubuh. Adalah aku yang merasakan serasa perih menyapa, perasaan yang terpendam terbawa dalam siksa. Rasa mengalung waktu terus dan terus memaksa, seperti itulah kira besar cinta terus berpacu dalam rasa cemburu yang membakar amarah. Itulah bila keinginan selalau memaksakan, aku peruntukan indah pagi ini sebagai sumpah untuk tak ada bohong lagi.
Perasaan yang terpendam menjadi memuncak dan tak sanggup untuk sekedar berpaling. Sesuatu yang menjadi damai hati adalah mengungkapkan pada pemilik hati dari raga dan Putrilah yang dimaksudkan.
Aku dan Putri adalah teman sejak pertama kali masuk SMA, kini kita sama-sama lulus. Tanpa disadarinya aku telah menaruk perhatian yang lebih sejak kelas dua dan ingin dia menjadi bagian hidup dalam takdir yang akan bercerita tentang keindahan. Akan tetapi, perasaan itu masih tersimpan karena teringat perkataannya yang tak ingin berpacaran sebelum lulus SMA.
Pagi ini hari minggu, seperti biasa aku yang sering jalan-jalan dengannya untuk menikmati hari libur. Aku menjemput putri dirumahnya dan mengajaknya untuk keliling kota dengan naik motor. Kesempatan ini aku pergunakan untuk membuktikan sumpahku pada pagi, mengungkap perasaan.
“Roy, berhenti disana ya. Beli bakso, aku belum sarapan,” Putri menunjuk warung bakso yang berada di pinggir taman kota.
Aku yang memesan bakso dan putri menunggu di tengah taman kota. Sambil makan kita menikmati keindahan taman dan hilir mudik orang berjalan santai menkmati hari libur.
“Put, Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu, tapi akunya malu,” kataku.
“Ngomong apaan Roy,” dia memaksaku.
“Aku ingin kuliah satu kampus denganmu” kataku yang berpura maksud.
“Oh itu, tak masalah. Itu juga menjadi inginku, karena bersamamu aku merasa nyaman dan tenang,” katanya.
Perasaan yang tak mampu dibohongi seolah menjadi bumerang dan maluku pada pagi jikala tak mengkukapkannya. Aku yang menggaggp ini adalah kesempatan untuk sebisa mungkin memberanikan diri mengungkapkannya.
“Coba lihat disana, dua merpati yang akur saling bercanda seolah hanya mereka miliki keindahan taman. Put, Bagaimana kalo aku ingin seperti merpati?” tanyaku sambil menunjuk merpati putih.
“Itu bagus, tapi apa iya kamu rela menjadi merpati,” jawabnya sambil tertawa.
Put, I like you and I love you,” aku memberanikan menyatakan tentang perasaan dengan memengangi tangannya.
Putri hanya terdiam tanpa sapa, seolah dia tak percaya akan kata-kataku. Saat itupun aku mengajaknya untuk naik ke motor.
“Mas, bayar dulu baksonya,” teriak penjual bakso.
“Maaf Pak lupa,” jawabku sambil menghampiri dan membayarnya.
Akupun memacu kendaraan untuk secepat mungkin sampai di Suramadu. Diam dan tanpa kata mengiring perjalanan. Motor aku berhentikan tepat di tengh-tengah jembatan dan melintang di tengah jalan. Sontan saja motor dibelakangnya berhenti dan sesaat itu pun keadaan menjadi macet.
“Para pengendara yang baik hati, maafkan saya dan minta waktunya sebentar. Saya hanya ingin mengungkapkan cinta dan kalian tuk bisa jadi saksinya” teriakku untuk menenagkan pengendara yang membunyikan klakson motornya.
“Ayo cepat, tunggu apa lagi,” teriak pengendara motor.
“Putri, dengarkan. Begitu banyak ingin adalah itu yang aku temui, seperti mimpi inginkan terjadi dan tak ingin dipersalahkan rasa ini, seharusnya untuk dipahami karena hidup ini untukmu dan itulah keinginan hati. Tatap mata ini dan lihatlah ketulusan, percayalah dan tak mungkin cinta aku purakan, satu cinta yang aku pertaruhkan tanpa ragu dan tanpa rapuh. Aku sudah lama memendam perasaan ini dan sekarang aku pinta cintamu untukku berlabuh,” teriakku untuk menyakinkan dan memohon cintanya.
“Sudahlah Roy. Aku mohon berhenti,” pintanya.
“Aku, semua pengendara dan jembatan Suramadu ini biarlah menjadi saksi. Aku ingin satu kata darimu, terima atu tidak,” paksaku padanya.
Sontan saja para pengendara motor seakan tanpa dipandu mengatakan “Terima, terima ...”
“Aku mencintaimu, aku terima Roy. Aku juga telah lama mengharapkan ini,” katanya sambil menghampiriku dan memelukku.
Tepuk tangan serentak dari pengendara motor dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan karena aku telah meminggirkan motorku. Tanpa diduga pengendara yang paling belakang adalah polisi.
“Selamat Pagi, selamat untuk anda karena mendapatkan cintanya. Tapi anda telah melanggar peraturan, dilarang berhenti di jembatan dan anda telah membuat kemacetan. Keluarkan surat-suratnya” katanya.
“Aku mengerti Pak,” jawabku tapi aku tak bisa menunjukkan karena lupa membawanya.
“Sekarang anda ditilang dan ikut ke pos” pintanya.
Kita hanya tersenyum dan pasrah mengiyakannya, berdua naik motor dengan pelukan erat karena bahagia tak terkira yang terasa seolah tanpa hirau polisi yang mengiring dibelakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar